Apoteker Ini Geram Karena Pasien Seenaknya `Buang` Obat Gratis Senilai Rp9 Juta

gerqm

Apoteker di Malaysia dibuat geram dengan ulah seorang pasien yang menyia-nyiakan insulin senilai 3.200 ringgit atau Rp9,5 juta. Tak hanya disia-siakan, dia juga mengembalikan obat tersebut dalam kondisi kedaluwarsa.
Dilansir dari Ohbulan, Kamis 8 Desember 2016, seorang pengguna akun Facebook bernama Izzah Syahmina, mengunggah kelakuan buruk seorang pasien yang menghambur-hamburkan obat gratis yang didapatkan dari pengobatan murah yang diberikan pemerintah.
Kisah ini bermula ketika seorang pasien mengambil insulin dari tahun lalu, lalu kembali ke apoteker pada tahun ini ketika obat sudah kedaluwarsa.
 So, pesakit ni dah ambil ubat insulin dari tahun lepas. Apparently dia tak pakai ubat dia dan tahun ni bila dah expired baru dia pulang ke farmasi (Jadi, pasien ini sudah mengambil obat insulin dari tahun lalu. Nyatanya, dia tak pernah mengkonsumsi obatnya dan tahun ini baru kembali ke apotek),” tulis Izzah.
Dia mengatakan bisa jadi kulkas pasien penuh untuk menyimpan insulin. Obat ini memang seharusnya disimpan di lemari pendingin. Tapi, ada satu hal menjadi tanda tanya bagi Izzah.
“ But, the bigger question is – kenapa dia tak pernah tanya doctor, nurse, pharmacist yg dia jumpa hampir setiap bulan? Kenapa masih ambil ubat walaupun tau tak pakai & ada tertimbun di rumah? (Pertanyaan terbesar adalah mengapa dia tidak berkonsultasi dengan dokter, perawat, dan apoteker yang ditemui setiab bulan? Mengapa masih mengambil obat meskipun tahu tidak menggunakan dan ditimbun di rumah?” kata dia.
Izzah mengatakan obat yang didapatkan pasien ini gratis. Walaupun ada label harga yang tertera di label obat, pasien itu tetap bisa mengambil obat seenak hatinya. Izzah mengatakan ada kerugian yang didapat dari obat yang mubazir itu.
“ So, berapa total kerugian utk semua insulin ni? RM3.200++. Masuk tong sampah (Jadi, berapa total kerugian untuk semua insulin ini? RM3.200 (Rp9,58 juta) lebih. Masuk tong sampah,” kata dia.
Petugas apotek pun sakit hati. Alasannya, pasien yang bersangkutan mengembalikan  obat yang sudah expired ke apotek. Lebih menjengkelkan lagi, dia masih bisa mendapatkan obat gratis kapan pun dia mau.
 Ini bukan kes terpencil. I ask other pharmacists to share their stories on how many patients don’t appreciate their meds. This kind of patients rob other patients of a chance to get these meds (Ini bukan masalah yang kecil. Saya bertanya kepada apoteker lain untuk membagikan cerita mereka berapa banyak pasien yang tidak menghargai obat yang diberikan. Pasien semacam ini telah merampok kesempatan pasien lain untuk mendapatkan obat-obat itu,” kata dia.